Tampilkan postingan dengan label PARENTING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARENTING. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

10 PROBLEM UMUM BELAJAR ANAK

10 PROBLEM UMUM BELAJAR ANAK

Oleh:  Irfan Tamwifi

Pembelajaran efektif merupakan dambaan setiap guru dan sekolah, tetapi mewujudkannya tidak selalu mudah dilakukan. Berbagai hambatan dihadapi guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Selain karena faktor instrumental, seperti kurikulum, guru dan infrastruktur, pembelajaran yang tidak dapat diabaikan adalah yang terletak pada diri peserta didik. Ibarat memasak suatu masakan atau memproduksi suatu produk, efektif tidaknya pencapaian hasil belajar juga ditentukan oleh bahan yang akan dimasak atau bahan baku produksinya. 
Meskipun demikian, sebagian problem belajar yang terletak pada peserta didik pada dasarnya dapat diupayakan untuk dikembangkan, baik secara sendirian, bersama sekolah, wali murid maupun pihak lain seperti konselor. Bahkan tugas pertama guru pada dasarnya adalah mempersiapkan peserta didik agar siap mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memahami problem-problem umum yang biasa menghambat proses belajar anak. Di antara problem tersebut adalah sebagai berikut.
1.   Minat Belajar
Problem paling umum belajar anak terletak pada rendahnya minat belajar. Belajar sering kali dijalani peserta didik sebagai ritual, aktivitas rutin, dan bukan atas kehendak, keinginan atau inisiatifnya sendiri. Rendahnya minat belajar mengakibatkan proses belajar hanya akan menjadi kegiatan yang kurang bermakna, dan dijalani sambil lalu.
2.   Kemauan Belajar
Belajar merupakan proses yang membutuhkan usaha yang keras. Belajar merupakan proses di mana seseorang melakukan suatu aktivitas mental hingga memperoleh suatu pengetahuan atau keahlian tertentu. Proses yang membutuhkan usaha dengan sendirinya tidak selalu mudah untuk dijalani. Meski demikian, setiap peserta didik yang kondisi mentalnya normal pada dasarnya mampu mempelajari seluruh materi pembelajaran dengan maksimal. Yang membedakan hasil belajar peserta didik satu dari yang lain pada umumnya terletak pada perbedaan kemauan untuk menempuh proses belajar dengan segala beban dan kesulitan di dalamnya. 
3.   Kemandirian Belajar
Pada dasarnya setiap manusia dapat belajar sendiri dari berbagai sumber. Hanya saja, kebanyakan anak cenderung ketergantungan pada guru, sekolah atau orang tuanya. Pada banyak kasus, hambatan belajar terjadi akibat ketergantungan tersebut, padahal seharusnya mereka dapat melakukan proses itu secara mandiri. Banyak anak yang lebih suka disuapi dibanding mengeksplorasi sendiri beragam pengetahuan dan keahlian di sekelilingnya, meskipun internet, media massa dan buku-buku mudah diakses. Ketidakmandirian belajar sering kali menjadi penyebab tidak optimalnya proses belajar yang dilalui peserta didik. Padahal semakin mandiri seorang anak, maka semakin cepat mereka mencapai tujuan belajar.
4.   Kesadaran dan Tanggung Jawab
Seharusnya belajar merupakan kebutuhan setiap individu agar berkembang kemampuannya baik aspek kognitif maupun vokasionnalnya. Hanya saja, tidak semua anak memiliki kesiapan untuk belajar untuk dirinya sendiri. Banyak anak yang tidak merasa butuh untuk belajar. Ketergantungan anak pada orang lain, seperti keluarga dan lingkungan menjadikan belajar sering kali bukan bermakna sebagai kebutuhan diri sendiri, melainkan orang lain, terutama orang tua dan guru.
5.   Mental dan Kepribadian
Anak-anak dengan kondisi mental dan kepribadian tertentu cenderung tidak mudah untuk mengikuti proses pembelajaran secara efektif. Kondisi mental dan kepribadian tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Anak-anak dengan mentalitas manja, liar, tidak tenang, kesulitan memfokuskan perhatian membutuhkan tenaga ekstra untuk mengantarkan mereka mencapai hasil belajar yang memadai.
6.   Kesiapan Mental
Belajar membutuhkan fokus perhatian secara optimal. Pembelajaran efektif membutuhkan kesiapan mental anak untuk menghadapi dan berproses di kelas. Sering dijumpai anak-anak yang secara fisik di kelas, tetapi sangat boleh jadi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Kesiapan mental sangat penting diperhatikan dalam proses pembelajaran, agar hal-hal di luar tujuan pembelajaran dieliminasi sehingga anak lebih fokus pada proses belajar.
7.   Kecerdasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran, terutama dalam bidang-bidang kognitif membutuhkan tingkat kecerdasan tertentu. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan rendah, apalagi sampai taraf disleksia misalnya, akan menyulitkan guru dalam mengantarkan mereka pada hasil belajar yang optimal. Kecerdasan seorang anak mempengaruhi kemampuan mereka dalam merekam informasi, memahami, apalagi mengimplementasikan konsep atau pengetahuan.
8.  Gaya Belajar
Pembelajaran ideal sering menuntut guru untuk menyesuaikan pendekatan pembelajarannya dengan gaya belajar peserta didik. Masalahnya, di kelas yang peserta didiknya memiliki gaya belajar beragam pada umumnya menyulitkan guru mencapai hasil pembelajaran secara optimal. Mengikuti gaya belajar sekelompok anak berpotensi merugikan anak yang lain, 
9.  Lingkungan Belajar
Aspek krusial yang sering kali diabaikan dalam pengelolaan belajar adalah budaya belajar di suatu sekolah. Budaya sekolah yang tidak terkonsep atau terlanjur diliputi oleh sikap, perilaku dan kebiasaan yang tidak kondusif cenderung sulit mengarahkan peserta didik mencapai kompetensi yang ditetapkan. 
10.  Lingkungan Sosial
Pembelajaran di sekolah pada dasarnya bukan proses yang berdiri sendiri. Secara tidak langsung, lingkungan di mana peserta didik tinggal dan bersosialisasi menentukan seberapa efektif mereka belajar di sekolah. Anak-anak yang bergaul dengan anak-anak yang malas belajar, akan cenderung demikian ketika di sekolah. Anak-anak di keluarga yang menekankan pentingnya belajar dan tidak juga menentukan bagaimana mereka belajar saat di sekolah. 

Senin, 13 Juni 2016

3  DAMPAK RENDAH DIRI PADA REMAJA

3 DAMPAK RENDAH DIRI PADA REMAJA

Oleh:  Irfan Tamwifi

Berbeda dari masa anak-anak yang umumnya bebas berekspresi, banyak anak yang berubah menjadi lebih tertutup, pendiam dan pasif saat memasuki masa remaja. Di satu sisi hal ini terjadi dikarenakan mulai tumbuhnya kesadaran mengenai normal dan nilai, tetapi di sisi lain perubahan tersebut sering kali terjadi akibat berkembangnya perasaan kurang percaya diri. 
Kesadaran atas nilai dan norma merupakan hal yang wajar dan seharusnya terjadi, tetapi akan menjadi masalah yang merugikan bilamana perubahan terjadi karena penurunan kepercayaan diri. Ironisnya, penurunan kepercayaan diri sering kali menjadi problem kejiwaan paling merugikan yang dialami anak saat memasuki masa remaja. Di antara kerugian anak yang rendah diri adalah: 
1.   Gagal Mengeksplorasi Diri
Setiap manusia pasti memiliki potensi-potensi mental dan fisik yang bilamana digali dan dilatih secara  optimal akan mengantarkannya meraih sukses. Hanya saja, rendahnya kepercayaan diri dapat mengakibatkan anak kehilangan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai potensi dirinya. Anak yang kurang percaya diri cenderung menarik diri dari arena pertaruangan dan menutup peluang untuk mengembangkan berbagai potensi diri mereka. 
Dengan kata lain, rendahnya kepercayaan diri membuat anak kalah sebelum bertanding. Padahal bila anak memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal, sangat boleh jadi mereka dapat bersaing dengan anak-anak yang kepercayaan dirinya lebih tinggi.
Dalam banyak kasus, anak-anak yang sukses tidak selalu berasal dari anak yang potensi dirinya lebih baik dibanding anak-anak yang gagal. Mereka yang berhasil meraih posisi-posisi prestisius seperti menjadi aparat pemerintahan, menjadi guru, dosen, atau profesi-profesi menterang lainnya, tidak selalu memiliki potensi kecerdasan lebih dari yang lain. Banyak di antara orang-orang yang sukses meraih karier yang mapan dalam hidupnya lebih dikarenakan modal keberanian dan kepercayaan diri dibanding kemampuan bawaan.
2.   Melemahkan Semangat Juang
Tidak salah bila para pakar kesuksesan berkeyakinan bahwa modal utama kesuksesan hidup lebih ditentukan oleh kekuatan mental dibanding kecerdasan, keahlian dan kompetensi teknis lainnya. Kesuksesan lebih ditentukan oleh kekuatan mental seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kekuatan tersebut berupa keyakinan diri atau kepercayaan diri, keberanian, kekuatan kemauan dan semangat juang seseorang dalam meraih sukses.Kemampuan kerja memang tidak selalu dapat dipelajari dengan mudah, tetapi kekuatan kemauan memungkinkan seseorang belajar dan meraih sukses. 
Rendahnya kepercayaan diri dengan sendirinya akan menghambat kekuatan mental seseorang untuk mengalahkan tantangan sejati dalam meraih sukses. Tantangan sejati dalam meraih sukses yang pertama dan terutama adalah mengalahkan kelemahan diri sendiri. Seseorang tidak akan mampu mengalahkan orang lain, bila dalam dirinya tidak ada kepercayaan diri.
Ibarat menghadapi pertempuran, orang yang tidak percaya diri bukan berarti tidak lebih terampil dalam bermain senjata dengan lawan, tetapi orang yang tidak punya nyali untuk bertempur. Tidak adanya nyali akan dengan mudah meruntuhkan semangat juangnya dan pada gilirannya akan dengan mudah dikalahkan oleh lawan.
3.   Memperkokoh Ketidakmampuan
Ketidakpercayaan diri cenderung membuat anak menarik diri dari percaturan hidup. Menarik diri dari percaturan hidup sama artinya dengan menutup diri, menutup jalan menuju sukses. Anak remaja yang rendah diri akan diliputi oleh perasaan kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai, yang pada gilirannya akan membuat mereka memilih untuk tidak bertanding.
Masalahnya, ketidakpercayaan diri sering kali tidak begitu jelas dialami oleh setiap remaja. Tingginya ego, perasaan lemah dan berbagai alasan membuat perasaan rendah diri sering diekspresikan secara berbeda-beda oleh setiap anak. Sebagian mengekspresikan perasaan rendah diri dengan cara menarik diri, menutup diri, dan membatasi diri untuk berkembang, sedangkan sebagian remaja lain cenderung mengekspresikan rasa rendah diri dengan cara sebaliknya. 
Dalam keseharian dapat dijumpai remaja yang terlihat pemberani, ugal-ugalan, dan agresif, meski pada dasarnya sikap dan perilaku tersebut sebenarnya bukan dikarenakan kepercayaan diri yang tinggi, melainkan sebaliknya. Banyak remaja yang berpakaian atau berdandan aneh-aneh, besikap arogan atau bahkan agresif bukan karena percaya diri, tetapi pada dasarnya justeru terjadi akibat ketidakpercayaan diri. Mereka berusaha menutupi ketidakpercayaan dirjnya dengan cara seolah-olah percaya diri.
Ketidakpercayaan diri baik yang diekspresikan dengan sikap dan perilaku tertutup maupun agresif pada dasarnya hanya memperkokoh ketidakmampuan diri anak. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk berkembang secara positif karena sikap dan perilaku anak yang tidak percaya diri  cenderung menjauhkan mereka dari kesempatan untuk belajar secara wajar dan terstruktur.

Kamis, 22 Agustus 2013

3 ALASAN MEMILIH SEKOLAH

3 ALASAN MEMILIH SEKOLAH

Sebagian orang mengatakan, "Sekolah itu sama saja". Itu sebabnya, sebagian orang tidak berminat memilihkan sekolah yang "aneh-aneh: apalagi yang berbiaya mahal bagi putera-puterinya. Mereka bahkan memandang "aneh" mereka yang memilih sekolah mahal, sebab menurut mereka di manapun sekolah itu sama.
Dari segi mata pelajarannya, pada dasarnya setiap sekolah itu sama, tetapi tidak berarti sama dalam segala hal. Setiap sekolah, bahkan sekolah milik pemerintah (negeri), yang hal standar konseptual kurikulum, managemen dan ketenagaan sama, ternyata tidak membuat setiap sekolah negeri sama. Perbedaan tersebut setidaknya terlihat dari:
1.  Perbedaan kualitas pembelajaran
Kurikulum yang sama ternyata tidak selalu sama dalam impementasinya. Perbedaan kualitas calon siswa (raw input), kualitas managemen, kualitas guru, sarana prasarana dan lingkungan sosial antar sekolah menjadikan kualitas pembelajarannya pada sekolah-sekolah milik pemerintah tidak sama. Setidaknya dari segi capaian hasil belajar pada umumnya ada perbedaan antara sekolah negeri yang menjadi pilihan pertama dan pilihan berikutnya.
2.  Perbedaan budaya belajar
Sekolah merupakan entitas sosial yang membentuk kebudayaannya sendiri. Kumpulan guru dan murid dengan beragam latar belakang, tingkat kecerdasan dan kebiasaan selalu melahirkan budaya pendidikan yang khas, yang membedakannya dari sekolah-sekolah lain. Kebudayaan tersebut sedikit banyak berpengaruh pada budaya belajar maupun perilaku siswanya. Itu sebabnya, ada beberapa sekolah yang siswa-siswinya dikenal penuh prestasi dan melahirkan orang-orang sukses, tetapi ada pula sekolah yang siswanya sering terlibat tawuran pelajar atau kenakalan remaja lainnya. 
3.  Perbedaan orientasi siswa
Pola pikir dan pandangan siswa mengenai masa depan dibentuk sebagai hasil perpaduan pengalaman mereka selama berinteraksi dengan lingkungan, baik di rumah, masyarakat maupun sekolah. Dalam hal ini sekolah sering memberikan kontribusi paling besar karena mereka merupakan lingkungan terdekat dengan siswa baik dari segi emosional maupun intelektual. Itu sebabnya, sekolah yang melahirkan orang-orang sukses umumnya juga mendorong siswa-siswanya menjadi orang sukses. Sebaliknya sekolah yang alumninya memilih tidak kuliah, akan cenderung membuat siswa tidak memiliki orientasi kuliah.
Dengan demikian, memilih sekolah merupakan hal penting yang akan menentukan masa depan siswa. Mengingat mata pelajaran di sekolah sama antar sekolah, maka hal terpenting di sekolah sebenarnya terletak pada nilai sosialitas sekolah. Dengan siapa dan bagaimana anak akan bergaul lebih penting dibandingkan mata pelajaran apa yang mereka pelajari.

Kamis, 15 Desember 2011

MENGELOLA LIBURAN SEKOLAH YANG BERMAKNA

MENGELOLA LIBURAN SEKOLAH YANG BERMAKNA


Liburan sekolah di Indonesia akhir-akhir ini mendapat alokasi waktu yang cukup panjang dibanding masa-masa sebelumnya. Libur semester 1 atau semester gasal berlangsung 2 minggu dari sebelumnya yang hanya 1 minggu. Libur semester 2 atau semester genap berlangsung 3 minggu dari sebelumnya yang hanya 2 minggu.
Panjangnya masa liburan menjadi masalah tersendiri, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah dan bagi keluarga yang tidak mengagendakan liburan sekolah sebagai momen istimewa. Apalagi liburan sekolah tidak selalu bersamaan dengan liburan hari kerja di perusahaan dan instansi pemerintah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan bersama keluarga.
Sebagian sekolah lebih suka membiarkan liburan berlangsung begitu saja, tanpa agenda yang dipandu melalui sekolah. Siswa dapat memilih kegiatan liburan sesuai dengan kondisi masing-masing. Akibatnya, liburan tidak jarang menjadi momen yang menjemukan bagi sebagian siswa dan bagi siswa yang lain bahkan mengarahkan mereka pada hal-hal yang tidak konstruktif.
Liburan yang tidak terkelola dengan baik telah mengubah sikap, perilaku dan kebiasaan-kebiasaan dari konstruktif menjadi sebaliknya. Panjangnya masa liburan bahkan dikeluhkan oleh sebagian besar wali murid. Liburan yang tidak konstruktif telah membuat anak-anak mereka kecanduan game on line, berubah menjadi pemalas, kecanduan nonton TV, serta berkembangnya sikap dan perilaku yang tidak konstruktif lainnya.
Oleh karena itu, ada baiknya sekolah bersama wali murid mengelola kegiatan liburan agar bermakna positif bagi siswa. Pada prinsipnya, sekolah dan orang tua murid mengupayakan agar hari libur tidak membuat anak kehilangan inisiatif, jati diri  dan kesenangan yang seharusnya mereka nikmati selama masa liburan. Di antara cara mengelola liburan agar bermakna adalah:
1.      Membiasakan anak merencanakan kegiatan liburannya.
Hilangnya makna liburan biasanya terjadi karena kegiatan liburan terlepas dari agenda kegiatan siswa. Ada baiknya sekolah atau orang tua membicarakan kegiatan yang akan dilakukan siswa selama masa liburan. Bila perlu anak diminta menyusun rencana kegiatan liburan mereka.
Perencanaan liburan memungkinkan anak tidak kehilangan arah selama masa liburan karena tahu apa saja kegiatan liburan yang akan mereka lakukan. Mereka dapat memilih kegiatan mana yang bermanfaat dan menyenangkan selama liburan dan hasilnya.
Selain melatih ketrampilan perencanaan sebagai keahlian hidup (life skills) yang penting bagi kehidupan mereka, perencanaan liburan memungkinkan anak terbiasa menjalani hidup dengan tujuan yang jelas. Orang tua dan guru dapat memantau apa saja yang akan dilakukan anak selama liburan, dan memberikan dukungan dengan berbagai cara.
2.      Membiasakan anak merekam atau mendokumentasikan kegiatannya selama liburan.
Dokumentasi menjadi hal penting yang perlu dilakukan sebagai hiburan maupun refleksi atau pembelajaran atas apa saja yang mereka lakukan. Dokumentasi kegiatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, yang masing-masing memiliki makna dan urgensinya sendiri. Di antara bentuk rekaman atau dokumentasi kegiatan liburan di antaranya dalam bentuk:
a.      Foto-foto
Foto-foto kegiatan akan menjadi memori tersendiri yang memungkinkan siswa mengenang kegiatan liburan, bahkan menceritakannya berdasarkan gambar.
b.      Hasil karya
Kegiatan liburan dapat diisi dengan berkarya. Siswa dapat didorong untuk mengisi liburan dengan belajar membuat suatu karya atau produk berupa kerajinan tangan, elektronika dan sejenisnya. Produk yang mereka hasilkan akan memberikan makna tersendiri bagi siswa, berupa kebanggaan dan beragam cerita mengenai suka duka yang mereka lalui selama berkarya.
c.       Catatan harian
Mencatat kegiatan selama liburan merupakan satu bentuk latihan tersendiri dalam mengekspresikan pengalaman dan ide-ide. Pencatatan kegiatan harian akan sangat membantu mereka dalam melatih ketrampilan bahasa tulis. Ada baiknya, catatan harian menjadi salah satu penugasan sekolah bagi siswa selama liburan. Selain sebagai wahana melatih ketrampilan bahasa, dan kepekaan atas dokumentasi, catatan dapat menjadi bahan refleksi bagi siswa dan sekolah untuk mengembangkan kegiatan liburan yang lebih baik.
3.      Refleksi kegiatan liburan.
Salah satu hal paling menyenangkan setelah liburan adalah berbagi cerita perihal kegiatan liburan yang dijalani kepada orang lain. Anak-anak yang berlibur di luar kota biasanya dengan bangga bercerita kegiatan liburannya, tetapi mereka liburan yang tidak bermakna akan membuat mereka tidak antusias untuk menceritakannya.
Oleh karena itu, ada baiknya guru membiasakan bertanya tentang kegiatan liburan siswa pada hari pertama masuk sekolah. Hari pertama masuk sekolah akan menjadi hari yang menyegarkan bila masing-masing anak dapat bercerita dengan antusias mengenai kegiatan liburan mereka.
Dengan begitu, pertanyaan mengenai kegiatan liburan akan menjadi pertanyaan menarik bagi mereka yang menjalani liburan penuh makna. Ini memungkinkan anak terdorong untuk mengisi liburan dengan berbagai kegiatan yang penuh arti. Cerita tentang liburan akan penuh warna, bila liburan biasa direncanakan dengan baik. Pada gilirannya, anak akan terbiasa membangun kegiatan liburan terbaik dan menikmati apapun bentuk liburan yang mereka pilih, serta dengan bangga menceritakannya pada orang lain.
PERLUNYA MENGELOLA LIBURAN SEKOLAH

PERLUNYA MENGELOLA LIBURAN SEKOLAH

Liburan biasanya menjadi saat-saat yang paling ditunggu oleh siswa maupun guru. Mereka biasanya menyambut hari libur engan suka cita, sebab liburan berarti kebebasan dari berbagai beban dan tanggung jawab di sekolah. Kecenderungannya, guru maupun siswa bahkan selalu merasa berat ketika hari libur sekolah berakhir.
Liburan sendiri merupakan ritual umum di setiap instansi pemerintah maupun swasta, dan tidak terkecuali sekolah. Tradisi liburan sudah ada dalam kehidupan masyarakat tradisional, sebagai tuntutan-tuntutan tradisi ataupun akibat faktor alam.

Dalam kalender masyarakat tradisional terdapat heri-hari tertentu yang mengharuskan mereka menghentikan aktivitas rutin. Mereka mencurahkan perhatian pada hal-hal yang berkenaan dengan tradisi, seperti perayaan hari-hari besar atau hari-hari tertentu yang membuat seseorang dianggap tidak pantas untuk bekerja.
Liburan juga dilakukan akibat daur musim yang tidak memungkinkan masyarakat bekerja. Di masyarakat beriklim sub tropis dan dingin, masyarakat berhenti bekerja karena kondisi alam tidak memungkinkan mereka beraktivitas seperti biasa. Masyarakat perlu menyesuaikan diri terhadap perubahan musim dengan cara meliburkan aktivitas yang beresiko. Perubahan-perubahan musim tertentu riskan untuk beraktivitas terutama di luar rumah.  
Dalam managemen modern liburan ditempatkan sebagai salah satu kebutuhan dasar dalam managemen sumber daya manusia. Libur juga diberikan sebagai tanggung jawab sosial dan budaya. Setiap orang perlu libur dari aktivitas rutin mereka akibat tuntutan tanggung jawab untuk menghargai tradisi yang harus dijunjung tinggi, seperti hari raya tertentu. 
Dalam konteks managemen, liburan merupakan agenda tersendiri karena beberapa alasan dan kegunaan. 
1.     Penyegaran Kembali (refreshing)
Bekerja secara terus-menerus dapat membuat lelah secara fisik maupun mental. Manusia memerlukan waktu untuk beristirahat dari berbagai beban dan pekerjaan terlepas dari rasa lelah dan kejenuhan.  Liburan memungkinkan kondisi fisik dan mental kembali segar dan siap bekerja kembali.  
2.     Penyegaran Ide
Liburan dilakukan sebagai jeda dari rutinitas. Belenggu rutinitas dengan serangkaian beban dan tanggung jawab sering kali membuat seseorang tidak mampu berfikir jernih. Manusia perlu menarik diri beberapa saat dari rutinitas untuk mendapatkan inspirasi baru yang memungkinkannya memperbaiki pekerjaannya.
Liburan juga dapat menjadi fase untuk berefleksi atas apa yang sudah dilakukan dengan cara yang lebih ringan secara mental. Setelah mengalihkan perhatian pada hal lain sering kali seseorang dapat menemukan inspirasi baru yang lebih segar. 
3.     Membangun Harmoni
Belenggu rutinitas sering kali membuat seseorang berjarak dari orang-orang yang terdekat dan dicintai. Pertemuan dengan keluarga, sahabat dan handai taulan sering kurang bermakna karena intensitasnya berkurang oleh tugas-tugas rutin dan mendesak.
Liburan beberapa hari seharusnya menjadi momen untuk mendekatkan kembali jalinan kasih sayang yang merenggang di hari-hari yang penuh kesibukan. Banyak orang merasakan hal itu terutama saat liburan hari raya, sementara liburan lain sering kali kurang bermakna.
Selain liburan hari raya, liburan sekolah ternyata tidak selalu menjadi saat-saat menyenangkan bagi siswa maupun orang tua murid. Banyak orang tua justeru merasa penat menghadapi sikap dan perilaku anak-anaknya selama liburan sekolah. Banyak anak kehilangan tanggung jawab belajar dan melaksanakan tugas-tugas rutin selama liburan, hingga jatuh pada kegiatan-kegiatan yang justeru membebani orang tua, bahkan tidak jarang merugikan. Hal ini biasa terjadi karena:
1.     Pada dasarnya liburan sekolah selain hari raya tidak begitu bermakna.
Liburan akan memiliki makna penyegaran (refreshing) ide dan mental  bagi mereka yang memiliki aktivitas rutin yang penuh beban. Bagi orang yang pekerjaannya santai dan tanpa beban, pada dasarnya tidak terlalu memerlukan liburan. Liburan bahkan cenderung mengantarkan pada pilihan sikap, perilaku dan kegiatan yang tidak konstruktif.
2.     Tidak mampu mengelola liburan secara positif.
Liburan panjang memerlukan pengelolaan tersendiri. Tanpa pengelolaan, liburan hanya akan menjadi hari-hari yang menjemukan, yang berarti bertolak belakang dari tujuan dari liburan itu sendiri.
Itulah sebabnya, liburan memerlukan perencanaan. Ada baiknya sekolah turut mengelola kegiatan liburan bagi siswa, terutama yang tidak memiliki agenda sendiri selama masa liburan. Dengan begitu, kegiatan liburan dapat memberikan makna bagi siswa, terutama untuk memperbaiki kinerja mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran setelah hari libur berakhir.