Tampilkan postingan dengan label LEARNING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEARNING. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

10 PROBLEM UMUM BELAJAR ANAK

10 PROBLEM UMUM BELAJAR ANAK

Oleh:  Irfan Tamwifi

Pembelajaran efektif merupakan dambaan setiap guru dan sekolah, tetapi mewujudkannya tidak selalu mudah dilakukan. Berbagai hambatan dihadapi guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Selain karena faktor instrumental, seperti kurikulum, guru dan infrastruktur, pembelajaran yang tidak dapat diabaikan adalah yang terletak pada diri peserta didik. Ibarat memasak suatu masakan atau memproduksi suatu produk, efektif tidaknya pencapaian hasil belajar juga ditentukan oleh bahan yang akan dimasak atau bahan baku produksinya. 
Meskipun demikian, sebagian problem belajar yang terletak pada peserta didik pada dasarnya dapat diupayakan untuk dikembangkan, baik secara sendirian, bersama sekolah, wali murid maupun pihak lain seperti konselor. Bahkan tugas pertama guru pada dasarnya adalah mempersiapkan peserta didik agar siap mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memahami problem-problem umum yang biasa menghambat proses belajar anak. Di antara problem tersebut adalah sebagai berikut.
1.   Minat Belajar
Problem paling umum belajar anak terletak pada rendahnya minat belajar. Belajar sering kali dijalani peserta didik sebagai ritual, aktivitas rutin, dan bukan atas kehendak, keinginan atau inisiatifnya sendiri. Rendahnya minat belajar mengakibatkan proses belajar hanya akan menjadi kegiatan yang kurang bermakna, dan dijalani sambil lalu.
2.   Kemauan Belajar
Belajar merupakan proses yang membutuhkan usaha yang keras. Belajar merupakan proses di mana seseorang melakukan suatu aktivitas mental hingga memperoleh suatu pengetahuan atau keahlian tertentu. Proses yang membutuhkan usaha dengan sendirinya tidak selalu mudah untuk dijalani. Meski demikian, setiap peserta didik yang kondisi mentalnya normal pada dasarnya mampu mempelajari seluruh materi pembelajaran dengan maksimal. Yang membedakan hasil belajar peserta didik satu dari yang lain pada umumnya terletak pada perbedaan kemauan untuk menempuh proses belajar dengan segala beban dan kesulitan di dalamnya. 
3.   Kemandirian Belajar
Pada dasarnya setiap manusia dapat belajar sendiri dari berbagai sumber. Hanya saja, kebanyakan anak cenderung ketergantungan pada guru, sekolah atau orang tuanya. Pada banyak kasus, hambatan belajar terjadi akibat ketergantungan tersebut, padahal seharusnya mereka dapat melakukan proses itu secara mandiri. Banyak anak yang lebih suka disuapi dibanding mengeksplorasi sendiri beragam pengetahuan dan keahlian di sekelilingnya, meskipun internet, media massa dan buku-buku mudah diakses. Ketidakmandirian belajar sering kali menjadi penyebab tidak optimalnya proses belajar yang dilalui peserta didik. Padahal semakin mandiri seorang anak, maka semakin cepat mereka mencapai tujuan belajar.
4.   Kesadaran dan Tanggung Jawab
Seharusnya belajar merupakan kebutuhan setiap individu agar berkembang kemampuannya baik aspek kognitif maupun vokasionnalnya. Hanya saja, tidak semua anak memiliki kesiapan untuk belajar untuk dirinya sendiri. Banyak anak yang tidak merasa butuh untuk belajar. Ketergantungan anak pada orang lain, seperti keluarga dan lingkungan menjadikan belajar sering kali bukan bermakna sebagai kebutuhan diri sendiri, melainkan orang lain, terutama orang tua dan guru.
5.   Mental dan Kepribadian
Anak-anak dengan kondisi mental dan kepribadian tertentu cenderung tidak mudah untuk mengikuti proses pembelajaran secara efektif. Kondisi mental dan kepribadian tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Anak-anak dengan mentalitas manja, liar, tidak tenang, kesulitan memfokuskan perhatian membutuhkan tenaga ekstra untuk mengantarkan mereka mencapai hasil belajar yang memadai.
6.   Kesiapan Mental
Belajar membutuhkan fokus perhatian secara optimal. Pembelajaran efektif membutuhkan kesiapan mental anak untuk menghadapi dan berproses di kelas. Sering dijumpai anak-anak yang secara fisik di kelas, tetapi sangat boleh jadi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Kesiapan mental sangat penting diperhatikan dalam proses pembelajaran, agar hal-hal di luar tujuan pembelajaran dieliminasi sehingga anak lebih fokus pada proses belajar.
7.   Kecerdasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran, terutama dalam bidang-bidang kognitif membutuhkan tingkat kecerdasan tertentu. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan rendah, apalagi sampai taraf disleksia misalnya, akan menyulitkan guru dalam mengantarkan mereka pada hasil belajar yang optimal. Kecerdasan seorang anak mempengaruhi kemampuan mereka dalam merekam informasi, memahami, apalagi mengimplementasikan konsep atau pengetahuan.
8.  Gaya Belajar
Pembelajaran ideal sering menuntut guru untuk menyesuaikan pendekatan pembelajarannya dengan gaya belajar peserta didik. Masalahnya, di kelas yang peserta didiknya memiliki gaya belajar beragam pada umumnya menyulitkan guru mencapai hasil pembelajaran secara optimal. Mengikuti gaya belajar sekelompok anak berpotensi merugikan anak yang lain, 
9.  Lingkungan Belajar
Aspek krusial yang sering kali diabaikan dalam pengelolaan belajar adalah budaya belajar di suatu sekolah. Budaya sekolah yang tidak terkonsep atau terlanjur diliputi oleh sikap, perilaku dan kebiasaan yang tidak kondusif cenderung sulit mengarahkan peserta didik mencapai kompetensi yang ditetapkan. 
10.  Lingkungan Sosial
Pembelajaran di sekolah pada dasarnya bukan proses yang berdiri sendiri. Secara tidak langsung, lingkungan di mana peserta didik tinggal dan bersosialisasi menentukan seberapa efektif mereka belajar di sekolah. Anak-anak yang bergaul dengan anak-anak yang malas belajar, akan cenderung demikian ketika di sekolah. Anak-anak di keluarga yang menekankan pentingnya belajar dan tidak juga menentukan bagaimana mereka belajar saat di sekolah. 

Minggu, 01 September 2013

3 TAHAP DASAR PEMBELAJARAN EFEKTIF DAN BERMAKNA

3 TAHAP DASAR PEMBELAJARAN EFEKTIF DAN BERMAKNA

Pengelolaan kegiatan pembelajaran pada dasarnya tak berbeda dari aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari, seperti makan, minum dan melakukan berbagai jenis pekerjaan. Bagi sebagian orang, kegiatan-kegiatan keseharian tersebut dilakukan tanpa dipikirkan, semua berlangsung begitu saja, tanpa fase-fase tertentu.
Banyak orang melakukan kegiatan seperti makan secara tergesa-gesa tanpa lebih dahulu melakukan langkah-langkah persiapan seperti do’a dan cuci tangan, atau menyiapkan kain lap. Ketika ada yang kurang, dia harus bolak-balik ke dapur. Meski pada akhirnya perut kenyang, tetapi banyak makanan yang tercecer di mana-mana. Apalagi bila setelah selesai makan langsung melakukan aktivitas lain, tanpa  lebih dulu merapikan peralatan dan membersihkan sisa makanan.
Belajarpun tak jarang berlangsung demikian. Tak jarang guru masuk kelas langsung mengajar, tanpa terlebih dahulu melakukan langkah-langkah persiapan. Guru juga tak melakukan apa-apa saat bel tanda akhir jam pelajaran berbunyi, dan tak hanya membiarkan siswa langsung keluar keluar kelas begitu saja.
Dapat dipastikan pembelajaran seperti ini tidak efektif, sebab selama pelajaran tak semua siswa memperhatikan. Guru bahkan harus berteriak-teriak untuk menenangkan siswanya. Sangat boleh jadi kebanyakan siswa tak tahu apa yang baru saja diajarkan oleh guru karena fokus perhatian mereka tak sepenuhnya tertuju pada kegiatan pembelajaran.
Agar pembelajaran berlangsung efektif dan bermakna ada beberapa langkah dasar yang harus dilakukan. Langkah-langkah terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
1.   Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan ini kadang juga disebut kegiatan pembuka atau pijakan awal. Setiap memulai kegiatan pembelajaran atau kegiatan apapun, seharusnya guru melakukan beberapa langkah strategis yang bertujuan mengkondisikan mental siswa agar siap untuk belajar.
Kegiatan pendahuluan adalah fase mengalihkan fokus perhatian siswa dari berbagai aktivitas sebelum pelajaran dimulai, apalagi yang berpotensi mengganggu kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru harus mengantisipasi ketika anak baru saja bermain, bercanda atau bahkan masih makan jajanan, agar tidak mengganggu konsentrasi dan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pendahuluan juga ditujukan untuk mengarahkan mental anak pada suasana belajar dan materi yang diajarkan. Pelajaran seyogyanya tidak dimulai ketika anak masih terbawa suasana bermain atau hal-hal lain yang mereka lakukan sebelum jam pelajaran dimulai, maupun perhatian anak belum benar-benar fokus pada kegiatan pembelajaran.
2.   Kegiatan Inti
Ini merupakan kegiatan pokok dalam proses pembelajaran, yaitu usaha membuat peserta didik menguasai materi pelajaran. Setelah siswa benar-benar siap belajar, guru dapat memulai proses internalisasi materi pelajaran sesuai dengan pendekatan, strategi, metode, media dan berbagai instrumen yang telah dipersiapkan.
Pengelolaan kegiatan inti harus disesuaikan dengan materi, bidang cakupan dan ketersediaan sarana dan prasarana. Selama kegiatan inti, perhatian dan ektivitas siswa harus dikondisikan agar sepenuhnya terfokus pada proses pembelajaran, baik dalam hal memilih metode atau media yang tepat maupun pemberian selingan (ice breaking) untuk menyegarkan suasana.
3.  Kegiatan Penutup
Kegiatan ini disebut juga pijakan akhir atau kegiatan akhir. Dalam kegiatan ini guru harus memastikan seluruh siswa berhasil menguasai materi pelajaran, baik melalui kuis, tanya-jawab, refleksi atau evaluasi.
Berdasarkan hasil kegiatan akhir guru dapat mengetahui apakah proses pembelajarannya saat itu berhasil mencapai target atau tidak. Dengan begitu, guru dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaikinya, atau memberikan threatment tambahan terutama bagi siswa yang belum berhasil. Siswa sendiri diupayakan memahami apa yang baru saja mereka pelajari, dan menyadari sejauh mana pemahaman mereka, serta kekurangan mereka dalam menguasai materi tersebut.
Dengan begitu, proses pembelajaran akan berlangsung efektif dan bermakna baik bagi siswa maupun guru. Intinya, sebelum dan setelah melakukan kegiatan siswa dan guru harus tahu apa yang mereka dapat dan hasilkan dari proses pembelajaran yang baru saja mereka lakukan.
Tiga tahap ini berlaku bukan hanya dalam pembelajaran di kelas, melainkan juga seluruh kegiatan sekolah baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Kegiatan upacara, perayaann hari besar, bahkan lomba-lomba perlu dilakukan dengan memperhatikan ketiga tahap ini agar seluruh kegiatan berlangsung efektif dan bermakna bagi siswa. 
Bahkan saat rapat, breafing atau persiapan dan penutupan kegiatan sekolah, guru perlu membiasakan menggunakan ketiga langkah tersebut agar setiap aktivitas tidak hanya menjadi ritual, rutinitas tanpa makna. Pelaksanaan ketiga tahap tersebut akan memungkinkan aktivitas apapun berlangsung efektif dan bermakna bagi seluruh peserta.
KEAHLIAN POKOK GURU

KEAHLIAN POKOK GURU

Sebagaimana halnya profesi-profesi lain, profesi guru juga menuntut seperangkat ketrampilan yang perlu dikuasai agar mampu menjalankan perannya secara optimal. Secara normatif pemerintah memetakan ketrampilan guru ke dalam 4 ranah kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, profesional, pedagogik dan kompetensi sosial, tetapi sebenarnya keempat kompetensi tersebut dapat disederhanakan ke dalam dua ranah dasar, yaitu mentalitas dan ketrampilan keguruan.

1.   Mentalitas Keguruan
Menjadi guru merupakan sebuah pilihan, terutama bagi sebagian orang yang sejak awal memang berkarakter guru. Guru idealnya merupakan panggilan jiwa, orang yang memang memiliki mental keguruan. Mereka adalah orang yang memiliki bakat dan kecenderungan bawaan berupa senang menyampaikan ide, mengubah dan meningkatkan potensi diri orang lain dengan cara mengajar.
Berbeda dari profesi-profesi lain, guru merupakan profesi yang bersifat profetik, berjiwa pendidik. Dengan demikian, guru yang baik menuntut beberapa prasyarat, yaitu:

  • Orang baik, karena tugas guru adalah membaikkan anak didiknya.  
  • Menempatkan diri sebagai orang yang layak dijadikan panutan, karena harus menjadi contoh pertama bagi anak didiknya.
  • Menjaga muru’ah, yaitu menjaga diri dari sikap, perilaku dan pergaulan yang tidak pantas agar guru dihormati oleh orang lain, dan terutama siswanya. 
  • Orang yang peduli, yaitu memiliki kepekaan terhadap keadaan yang perlu diperbaiki, dan dan tergerak membantu orang lain.
  • Orang ikhlas dan berjiwa perjuangan, yaitu bekerja secara tulus. sebab yang dihadapi guru adalah manusia, sebab suasana hati dan sikap mental guru sering kali jauh lebih berpengaruh dibanding kata-katanya.
  • Orang yang komunikatif dan dapat bekerja sama dengan semua orang. Selain berhadapan dengan murid, sering kali guru harus berhadapan dengan wali murid dan masyarakat.
2.  Ketrampilan Keguruan
Berbeda dari ketrampilan sopir, tukang bangunan, montir atau profesi lain yang bersifat teknis-mekanis, ketrampilan keguruan bersifat mental, deep soft skill. Ketrampilan guru mirip ketrampilan yang harus dimiliki oleh seniman, yaitu mengandalkan kecerdasan pikir dan kepekaan perasaan sekaligus.
Ketrampilan mengajar pada awalnya merupakan seni, sebuah kecakapan yang secara mental maupun vokasional melekat pada diri seseorang. Sekalipun tidak semua orang ingin menjadi guru, tetapi ada sebagian orang yang karena alasan tertentu memilih menjadi guru, baik karena tanggung jawab sosial, dihadapkan pada pilihan pekerjaan, atau karena kebutuhan sendiri.
Kian rumitnya tuntutan pendidikan modern menjadikan ketrampilan guru tidak cukup hanya sebatas ketrampilan yang bersifat seni, melainkan harus dilengkapi dengan ketrampilan rancang bangun (enginering), evaluasi dan komunikasi. Hal ini dikarenakan beban pembelajaran dan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan kian meningkat, tidak lagi sebatas tugas sosial yang bersifat suka-rela. Peningkatan kebutuhan pendidikan sebagai investasi masa depan menjadikan setiap proses pendidikan harus dapat memberikan nilai tambah yang jelas.

  • Ketrampilan merancang kegiatan pembelajaran, yaitu mempersiapkan materi, langkah-langkah dan berbagai instrumen yang diperlukan dalam pembelajaran.
  • Ketrampilan mengendalikan kelas, yaitu membuat diri dan instruksinya dipatuhi oleh siswa.
  • Ketrampilan melaksanakan kegiatan pembelajaran, yaitu menyampaikan materi pelajaran yang mudah diserap oleh siswa.
  • Ketrampilan mengevaluasi kegiatan pembelajaraan, yaitu kemampuan mengukur keberhasilan atau kegagalan pembelajaran, serta melakukan usaha perbaikan.
  • Ketrampilan mengkomunikasikan hasil pembelajaran, yaitu kemampuan mempertanggungjawabkan kegiatan pembelajarannya di hadapan pimpinan dan wali murid.


Rabu, 28 Agustus 2013

5  PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF

5 PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF

Menyelenggarakan pembelajaran efektif merupakan impian setiap guru dan sekolah. Pembelajaran efektif adalah kegiatan pembelajaran yang berhasil mengantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Secara managerial-administratif dan berlaku secara kedinnasan, ukuran keberhasilan tersebut adalah pencapaian kriteria ketuntasan minimal oleh setidaknyaa 85% siswa.
Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun. Hal ini dikarenakan efektivitas pembelajaran merupakan proses yang kompleks, baik dipengaruhi oleh kondisi siswa, lingkungan maupun kompetensi pengajarnya.

Di antara sekian faktor penentu efektivitas pembelajaran, kemampuan pengajar merupakan faktor paling dominan. Pada sebagian orang pembelajaran efektif dipengaruhi oleh ketrampilan bawaan dalam mengajar. Sekalipun demikian, pembelajaraan efektif merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari, setidaknya dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut.
1.  Pengendalian Kelas
Pembelajaran efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk mengendalikan kelas, yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian kelas merupakan kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun pengendalian kelas yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal keberhasilan pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas merupakan upaya membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan. 
2.  Membangkitkan minat eksplorasi.
Setelah siswa secara mental siap belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-siswinya betapa materi pembelajaran yang tengah mereka pelajari penting dan mudah dipelajari, sehingga menggugah minat mereka untuk mempelajarinya. Ibarat makan, setelah anak mandi, berganti pakaian dan duduk di meja makan, sajian yang akan mereka santap memang membangkitkan selera. Anak tahu makanan itu enak, bermanfaat dan tak sabar untuk segera melahapnya.
3.  Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
Seenak apapun makanan, pasti ada cara paling tepat untuk menikmatinya. Kesalahan cara menikmati tak jarang membuat anak kehilangan selera, misalnya makan satu ayam tetapi dari sambalnya lebih dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan hakekat makanan yang akan mereka santap, serta dari bagian mana atau dengan cara seperti apa menikmatinya. 
Tugas inti seorang guru secara profesional adalah memperkenalkan konsep dasar dari materi pelajaran yang tengah dipelajari, dimulai dari sisi termudah dan paling menarik. Guru yang benar-benar menguasai materi pelajaran pasti menemukan banyak cara untuk membuat anak didiknya memahami materi pelajaran, dan bila perlu membuat kiasan, terutama untuk materi pelajaran yang bersifat abstrak,  
4.  Latihan
Pemahaman dalam sekali proses akan sangat mudah menguap oleh berbagai aktivitas lain siswa. Memberikan latihan demi latihan baik berupa latihan di kelas, PR atau pemberian tugas-tugas tertentu merupakan wahana untuk memperkuat penguasaan materi yang telah dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak diberikan agar siswa berlatih secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka mungkin saja mempelajarinya.
Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan materi pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas mungkin, sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas dan mendalam.  
5.  Kendali Keberhasilan
Tugas guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru harus memastikan seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap penguasaan materi pelajaran oleh siswa harus dilakukan baik selama proses pembelajaran, latihan maupun penugasan.
Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan materi pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak lainnya. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan penjajagan adalah jawaban siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya. Meminta siswa yang dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi indikator awal keberhasilan pembelajaran, sebab secara otomatis dapat diperkirakan penguasaan materi oleh siswa yang daya tangkapnya kuat.  

Kamis, 14 Juni 2012

BAHASA GURU DALAM PENGUASAAN KELAS

BAHASA GURU DALAM PENGUASAAN KELAS

Penguasaan kelas yang baik merupakan kebutuhan pokok dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan penguasaan kelas merupakan modal dasar dalam mewujudkan pembelajaran efektif. Guru juga akan lebih mudah melaksanakan tugasnya bila berhasil menguasai kelas dengan baik.
Kunci utama penguasaan kelas yang baik adalah komunikasi efektif, yaitu kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa melalui sikap dan ucapan yang mampu mensugesti siswa dan membuatnya bersikap dan melakukan sesuatu sesuai instruksi guru. Kemampuan komunikasi efektif bukan hanya berarti kepiawaian merangkai kata-kata atau ucapan (bahasa verbal), melainkan juga mencakup sikap dan tindak-tanduk guru (bahasa non-verbal).
Oleh karena itu penguasaan kelas yang baik membutuhkan kemampuan berkomunikasi efektif, baik berupa komunikasi verbal maupun non-verbal. Komunikasi verbal berarti rangkaian kata-kata yang secara efektif dapat dipahami dan diikuti oleh siswa, sedangkan komunikasi non-verbal merupakan serangkaian sikap yang membuat orang lain percaya, menghormati dan bersedia mendengar dan mengikuti.
SIKAP GURU

Penerapan komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas dapat dilakukan dengan mengedepankan sikap atau bahasa non-verbal berikut.
1.    Wibawa
Kewibawaan merupakan sifat pembawaan pada sebagian orang, tetapi dapat berkembang seiring pengalaman, kematangan mental dan kesediaan untuk belajar. Kewibawaan dapat dibangun dengan mengembangkan sikap percaya diri, penggunaan suara bertekanan dan pandangan mata yang berwibawa.
a.    Percaya diri
Kepercayaan diri membuat seseorang mampu memancarkan kekuatan mental sehingga dapat mempengaruhi orang lain. Kepercayaan diri terbangun oleh kekuatan pikiran berupa keyakinan pada diri sendiri, pada kemampuan yang dimiliki, serta kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Guru dapat menguasai kelas pertama-tama dengan membangun kepercayaan diri yang baik. Kepercayaan diri tersebut dibangun dengan cara:
1)    Menempatkan diri sebagai guru yang harus mampu mengatasi siswa,
2)    Meyakinkan diri sendiri dan menghilangkan keraguan bahwa dia mampu mengatasi keadaan yang dihadapi, mampu mengendalikan kelasnya dengan baik.
b.    Suara bertekanan
Setiap orang memiliki gaya berbeda-beda dalam bersuara. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, karena suara sekaligus menjadi pembeda orang satu dari yang lain. Ada orang yang bersuara tenor yang menggema atau sopran yang terdengar melengking. Perbedaan tersebut tidak menjadikan suara satu lebih efektif dibanding yang lain, sebab efektivitas komuninasi dengan suara tipe apapun ditentukan oleh isi pembicaraan dan kadar tekanannya.
Lingkungan keluarga merupakan faktor umum yang menentukan gaya bicara seseorang. Orang dari keluarga yang kurang percaya diri biasanya berbicara dengan tekanan suara ringan, datar atau bahkan lemah. Sebaliknya, orang dari keluarga yang terlatih untuk lebih percaya diri akan berbicara dengan tekanan suara lebih berat.
Status guru seharusnya mengubah nada suara seseorang menjadi suara bertekanan, yaitu suara yang memiliki kesan kuat, lebih berat dan tegas sehingga memiliki nilai sugestif atau harus didengar. Suara bertekanan tidak selalu berarti keras, apalagi kasar, tetapi suara yang mencerminkan kehendak yang kuat dari seseorang.  
c.    Pandangan mata
Banyak orang meyakini mata menunjukkan keadaan jiwa seseorang. Sedih, senang, bahagia, marah, suka, tidak suka, atau amarah selalu tercermin jelas pada mata. Demikian halnya dengan kepercayaan diri, ketegasan atau kelemahan jiwa seseorang juga tergambar pada bagaimana pandangan matanya.Mata juga merupakan alat komunikasi non verbal yang memungkinkan seseorang mengirimkan pesan tertentu pada orang lain.
Sikap guru dalam penguasaan kelas perlu ditunjang dengan ekspresi pandangan mata yang mencerminkan percaya diri dan terfokus pada seluruh siswa. Caranya, saat berbicara di depan kelas, guru melakukan kontak mata, yaitu mengarahkan focus padangan matanya pada mata siswa satu-persatu. Guru berkomunikasi tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan matanya.
Sekalipun tekniknya sederhana, tetapi ini bukan hal mudah untuk dilakukan dilakukan. Nada bicara mungkin bisa diubah keras, tetapi pandangan mata tidak mudah diubah kecuali seiring kondisi mental guru.
2.    Simpatik
Simpati merupakan sikap yang menunjukkan adanya sambung rasa, ikatan batin, dan kepedulian pada orang lain. Sikap simpati ditandai dengan adanya empati, perhatian penuh, kepedulian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Setiap anak pada dasarnya suka diperhatikan, karena perhatian merupakan satu bentuk penghargaan. Penguasaan kelas yang baik menuntut guru mampu bersikap yang membuat siswa berharga dan diperhatikan.
Sikap simpati dalam penguasaan kelas ditunjukkan dengan menyebut nama siswa dengan penuh respek, mengarahkan fokus perhatian pada siswa, dan penggunaan ungkapan-ungkapan yang bernada positif dan menghormati. Ungkapan-ungkapan bernada keras dan intimidasi sama sekali bertolakbelakang dengan sikap simpatik.  
3.    Sugestif
Komunikasi dalam penguasaan kelas ditujukan dalam rangka mempengaruhi peserta didik. Bentuk komunikasi efektif yang dibutuhkan dalam hal ini adalah komunikasi yang sugestif, melalui ungkapan dan nada bicara yang mampu mempengaruhi siswa secara positif.
Ungkapan-ungkapan sugestif dapat dilakukan dalam bentuk sikap yang meyakinkan dan memberikan daya kejut yang baik. Di antara bentuknya adalah penggunaan yel-yel positif secara berulang-ulang, penekanan dan pengulangan kalimat dengan intonasi menarik.
Ungkapan dengan nada sugestif akan jauh lebih efektif bialamana dinyatakan dengan penuh percaya diri. Orang lain akan meyakini ucapan seseorang bilamana berbicara dinyatakan dengan penuh yakin dan percaya.
BAHASA GURU
Banyak guru mengumbar kata-kata untuk membuat anak didik mengikuti instruksi. Bahkan tidak jarang guru mengomel panjang lebar ketika instruksinya tidak didengar dan dipatuhi oleh siswa-siswanya. Cara itu tentu saja tidak efektif, di samping membuang energi. Siswa bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dikehendaki oleh gurunya.
Oleh karena itu, komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas perlu dilengkapi dengan menggunakan pilihan kata atau bahasa verbal yang efektif. Pada prinsipnya bahasa yang perlu dipakai oleh guru dalam pengendalian kelas mirip dengan militer, yaitu singkat, jelas, dan instruktif.
1.    Singkat dan jelas
Sebaiknya guru menggunakan ungkapan-ungkapan pendek yang mudah dimengerti oleh siswa dan mudah dilaksanakan. Semakin pendek dan jelas ungkapan yang digunakan akan semakin mudah siswa melaksanakan. Semakin panjang ungkapan digunakan, maka akan semakin kabur pesan yang diperoleh siswa.
2.    Instruktif
Banyak guru yang masih suka menggunakan bahasa himbauan dalam pengelolaan kelas. Akibatnya, banyak anak didik yang tidak memperhatikan. Pelajaran bahasa Indonesia yang menekankan bahasa efektif sering kali terlupakan saat guru melaksanakan pembelajaran, padahal itulah salah satu gunanya pelajaran ini diberikan di sekolah.
Bahasa dalam penguasaan kelas harus bersifat instruktif. Bahasa instruktif adalah ungkapan atau pernyataan sederhana bernada perintah yang tegas, misalnya: “Semua berdiri dalam hitungan lima! Satu, dua, ….” Bilamana siswa belum memperhatikan, guru mengulanginya dengan perintah yang sama, yel, energizer atau instruksi apapun yang membuat siswa berbuat sesuai instruksi.