Tampilkan postingan dengan label KULIAH DI PEGURUAN TINGGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KULIAH DI PEGURUAN TINGGI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2015

BUDAYA BELAJAR; MAHASISWA DAN WACANA SOSIAL

BUDAYA BELAJAR; MAHASISWA DAN WACANA SOSIAL

Di era 80 dan 90-an, dengan mudah dijumpai kelompok-kelompok mahasiswa yang duduk melingkar di rerumputan dan di berbagai sudut kampus. Mereka berkelompok atas dasar beragam visi, orientasi, bahkan aliran pemikiran yang rajin mendiskusikan berbagai topik. 
Fenomena yang sama akhir-akhir ini semakin jarang dijumpai di berbagai perguruan tinggi di tanah air. Jumlah kelompok diskusi mahasiswa semakin kecil. Sepertinya semakin sedikit mahasiswa yang tertarik untuk mengasah daya intelektualitas mereka dengan berbagai isu sosial, politik, keagamaan, apalagi mendalami berbagai wacana pemikiran yang rumit. Pengembangan wawasan keilmuan kurang ditempatkan sebagai bagian dari kebutuhan pengembangan diri.
Mahasiswa semakin jauh dari wacana pemikiran, bahkan dengan bidang keilmuan sesuaI jurusan yang tengah mereka tempuh. Mereka lebih tertarik pada gebyar dunia yang pragmatisnya, bahkan cenderung konsumtif. Kafe-kafe di sekitar kampus yang kian ramai sepertinya lebih dibutuhkan dibanding kelompok diskusi dan pengembangan daya intelektual lainnya. Mengasah intelektualitas menjadi kegiatan yang kurang menarik minat mahasiswa. 
Mahasiswa semakin pragmatis dalam menyikapi persoalan akademik. Pola belajar mahasiswa tidak ubahnya pola belajar anak sekolah yang hanya terfokus pada usaha menyelesaikan matakuliah demi mata kuliah yang berorientasi pada pencapaian indeks prestasi akademik.
Sungguh menyesakkan dada saat bertanya perihal isu-isu pendidikan tak satupun mahasiswa yang merespon, bahkan pernah mendengarnya.    

Senin, 22 Juli 2013

KISAH PERJALANAN PENYELESAIAN STUDI - 2

KISAH PERJALANAN PENYELESAIAN STUDI - 2

Setelah dua tahun berlalu, aku kembali menghadap pembimbingku, tetapi hingga beberapa bulan tak berhasil bertemu. Sepertinya beliau sangat sibuk. Kali ini aku tak lagi menyodorkan proposal penelitian, tetapi memberanikan diri menyerahkan draf laporan penelitian akhir yang telah aku buat sebelumnya. Aku berharap segera ada koreksi untuk kuperbaiki.

Aku lega setelah bertemu pembimbing kedua, dan mendapat beberapa catatan untuk kuperbaiki, dan sekitar empat bulan berikutnya aku berhasil bertemu pembimbing pertama, Jawaban yang aku terima dari pembimbing pertama sungguh di luar dugaanku. "Penelitian macam apa ini? Saudara sangat lemah di bidang sosiologi. Sebaiknya saudara kuliah lagi dua semester di sini" Jawabnya dengan nada tegas. Lemas rasanya mendengar jawaban itu. Beliau menafikan sama sekali semua yang telah aku lakukan.
Saat kembali bertemu, beliau menuliskan judul penelitian baru untukku. "Ini. Saudara buat disain dalam dua bulan" Ucapnya sembari menyodorkan judul penelitian baru di atas sebuah kertas. Meski dengan sedikit beban, segera saja aku tulis disain baru dan disetujui.
Dalam dua bulan aku telah selesaikan tulisanku dan kuletakkan di meja kerjanya karena beberapa kali tak berhasil bertemu. Beberapa kali aku mencoba menghadap sembari menyerahkan naskah baru hasil perbaikanku sendiri, tetapi tak pernah berhasil bertemu.
"Saya tanya satu hal. Kalau jawaban saudara benar, saya anggap seluruh laporan penelitian saudara benar" Jelasnya saat aku mendesak untuk diberikan koreksi.
"Peran itu apa?" Tanyanya. Aku menjawab, "Peran adalah dinamika status..."
"Fatal!" Sahutnya sebelum aku selesai menjawab.
"Peran itu ....." Jelasnya.
"Maaf definisi itu dapat saya peroleh di mana?" Tanyaku.
"Saya menemukan referensi ini... " Sambungku sembari menunjukkan beberapa rujukan dan lembar foto copy. Beberapa saat beliau mencermati definisi yang aku buat dan membaca referensi yang aku sodorkan, dan diam beberapa lama.
"Baik. Sebaiknya saudara pikir-pikir dululah. Saudara diskusikan sama orang-orang yang pernah meneliti hal seperti ini" Ucapnya mengakhiri konsultasiku. Aku hanya mengiyakan dan pamit, meski sejujurnya aku tak tahu harus melakukan apa.
Aku hanya berusaha memperbaiki kembali konsep-konsep yang telah aku buat, lalu kuserahkan kembali untuk dikoreksi, tetapi hingga beberapa bulan berikutnya beliau sangat sulit kutemui. Setiap janji bertemu hanya berujung penantian. Lebih dua tahun lamanya aku hanya bolak-balik ke kantornya menyerahkan naskah baru yang telah kuperbaiki, tetapi tak pernah beliau baca.
Kesal karena penantian yang begitu panjang sementara teman-temanku mulai lulus, dan kuatir dengan DO, akhirnya aku mengajukan pergantian pembimbing, tetapi ditolak oleh pejabat kampusku. Saat aku memaksakan pergantian, tanpa kuduga pembimbingku justeru marah besar. Aku dipanggil karena meminta pergantian pembimbing. "Saudara tetap dibimbing beliau. Saudara tak usah kuatir soal DO"
Lemas batinku mendengar putusan itu. Aku harus tetap bersama pembimbingku itu, padahal hubunganku dengan beliau terasa sudah tak nyaman lagi. Beberapa minggu kemudian, tanpa kuduga aku mendapat SMS dari staf beliau, "Naskah saudara sudah saya acc, silakan diproses lebih lanjut"
Kaget, senang dan bingung bercampur aduk di hatiku mendapat SMS itu. Segera saja aku menghadap beliau dan benar mendapat acc. Hingga benar-benar ujian  pendahuluan, aku harus menunggu hampir dua tahun lamanya sejak mendaftar.
KISAH PERJALANAN PENYELESAIAN STUDI - 1

KISAH PERJALANAN PENYELESAIAN STUDI - 1

Sangat dimengerti bila tak banyak orang yang bisa percaya. Kisah perjalanan studi seperti ini sepertinya hanya ada dalam fiksi, padahal benar-benar terjadi. Aku harus berhadapan dengan dua orang yang sama sekali tak menunjukkan empati yang memudahkanku menyelesaikan studi.

Proses bimbingan pada dasarnya sederhana saja. Dosen memberikan koreksi dan arahan agar mahasiswa dapat memperbaiki karya akhirnya sesuai saran dosen, tetapi faktanya tak semudah itu. Segudang rasa kecewa, tertekan bahkan putus asa harus kulalui, sebab proses yang kualami tidak berlangsung seperti itu.
Girang sekali rasanya saat aku dinyatakan lulus dalam sekali ujian kualifikasi. Tak banyak teman-temanku yang lulus dengan sekali ujian, sebab ada yang baru lulus setelah dua, tiga bahkan empat kali ujian. Dengan langkah penuh harap, aku segera menghadap para dosen yang ditunjuk untuk membimbingku. Aku bahkan dengan penuh percaya diri mamatok penyelesaian studi dalam satu atau dua tahun ke depan. Apalagi saat itu draf penelitian sudah mulai aku tulis.
Lega rasanya setelah menghadap pembimbing utama. "Saudara kerjakan saja dulu. Nanti temui saya kalau sudah selesai", jawabnya sembari menandatangani persetujuan menjadi pembimbing. Rasa lega kembali kurasakan setelah menghadap pembimbing kedua. "Baik. Saya setuju membimbing saudara, tapi saat ini saya sedang sibuk, karena sedang ada banyak bimbingan" Jelasnya sembari menunjuk tumpukan karya akhir mahasiswa di hadapannya. "Saudara datang dua atau tiga bulan lagi".
Aku hanya mengiyakan tanpa bicara banyak, dan memilih fokus mengerjakan tugas akhir itu semampuku. Aku berusaha menghadap pembimbingku, tetapi bertemu pembimbing utamaku sangat sulit kulakukan, sebab saat itu kabarnya beliau menjadi asisten mesteri. Aku bahkan tak berhasil bertemu setelah beberapa kali menunggu di rumahnya, karena beliau sedang di luar negeri. "Maaf saya sibuk. Saudara sama pembimbing dua saja. Kalau beliau setuju, saya juga setuju" Jawabnya saat aku berhasil bertemu.
Akupun mencoba menghadap pembimbing kedua, dan berhasil. "Jangan sekarang. Saya masih ada banyak bimbingan. Coba dua atau tiga bulan lagi. Atau begini saja, saudara bimbingan sama pembimbing utama saja. Saya percaya beliau. Kalau beliau setuju saya juga setuju"
Bingung. Aku tak tahu harus menghadap siapa. Aku kembali menghadap pembimbing utama. Beberapa bulan aku berusaha menghadap pembimbing pertama, tetapi tidak pernah berhasil. Karena kuatir terlalu lama menunggu aku mengajukan pengganti pembimbing utama, dengan harapan lebih mudah menyelesaikan studiku, dan disetujui dengan mengangkat pembimbing kedua sebagai pembimbing pertama.
Setelah beberapa bulan menghadap, jawaban pembimbing utama pengganti tetap sama. "Coba dua atau tiga bulan lagi" Jawabnya dengan alasan sibuk. Aku sempat mengeluhkan hambatan ini pada kampus, tetapi tak diijinkan kembali ganti pembimbing. Lelah berurusan dengan pembimbing membuat aku enggan menyentuh karya akhirku hingga dua tahun lamanya. 
EMPAT BULAN BERSAMA PAK NAS

EMPAT BULAN BERSAMA PAK NAS

Pak Nas, begitu beliau biasa dipanggil. Aku baru ingat kembali namanya saat hendak mengurus ujian akhir. Terus terang aku tak begitu ingat namanya, apalagi tanpangnya, meski sebelumnya dia pernah menjadi pengujiku di ujian pendahuluan. Selain tak ada yang istimewa, saat ujian tidak ada pertanyaan atau saran menonjol yang layak kucatat. Yang paling kuingat darinya bahkan hanya saran "konyol" agar aku menyajikan ayat-ayat suci dalam laporan penelitianku.

Aku tak begitu menanggapi ketika beberapa kawan-kawanku menyebut dia dosen yang sulit dan pelit nilai. Selain tak terlalu merisaukan soal nilai lagi, yang paling aku pikirkan justeru bagaimana menghadapi SU, dosen pembimbing yang sudah terbukti dan teruji sekian lama sebagai menghambat utama studiku.
Sebelumnya aku tak memperhitungkan pak Nas akan menjadi persoalan tersendiri, apalagi dia orang yang baru kukenal dan dari almamaterku sendiri. Rupanya dugaanku meleset, bahkan sangat jauh. Beberapa minggu sejak pulang dari Jakarta aku disibukkan dengan mencari cara bertemu pengujiku, pak Nas dan pak Agus. Aku tak berhasil kontak dengan mereka, sebab telepon tak diangkat, dan SMS juga tak dijawab. Beberapa minggu aku hanya menunggu di sana-sini berdasarkan jadwal mengajarnya, dan gagal tak sekalipun bertemu.
Berkat informasi seorang teman, bertemu dengan pak Agus tak banyak masalah. Meski dalam kondisi sakit parah, orang itu masih bergitu antusias dengan kedatanganku. Dia banyak memberi motivasi meski belum juga memberikan koreksi hingga akhir hayatnya.
Berkat bantuan sahabat, akhirnya aku tahu jadwal yang pasti pak Nas ke kampus, dan dua minggu berikutnya aku berhasil menghadap. Aku merasa lega saat dia bilang, "Baik, saya baca dulu. Itu baru namanya kerja" Aku tak menyoal sikapnya yang dingin tanpa ekspresi, karena sudah aku tahu sebagian dosen tua di kampusku memang suka berlagak seperti itu.
Minggu berikutnya aku menghadap, dan jawabannya "Belum selesai dibaca". Aku terkejut saat dia menyoal masa perbaikanku yang begitu panjang. Seketika itu aku minta surat keterangan dari kampus untuk memastikan statusku sebagai mahasiswa aktif.
Karena alasan belum selesainya koreksi karena banyaknya bimbingan, aku menghadap menjadi dua minggu. Aku berharap itu waktu yang cukup untuk koreksi, tetapi saat kembali bertemu, pak Nas menjawab dengan nada yang kurang enak, "Belum selesai! Bimbingan saya kan banyak". Tak enak dengan sikapnya yang seakan aku tekan, aku mencoba mengulur waktu menghadap menjadi empat minggu. Setelah kembali bertemu, bukan hasil koreksian yang kudapatkan, tetapi cecaran pertanyaan, "Saudara kan harusnya ujian pendahuluan lagi? Apa dasarnya saudara mau ujian akhir? Carikan surat itu agar status saudara halal"
Lemas batinku mendengarnya, tetapi untungnya aku sudah biasa menghadapi hal serupa dengan dosen pembimbingku selama beberapa tahun ini. Aku langsung ke kampus minta surat yang dia pertanyakan. Empat minggu aku mengurus surat yang dia minta, tetapi belum juga kelar, dan baru beberapa hari lalu aku dapat kepastian kalau surat yang beliau minta sudah dikirim ke pak Nas.
Kini aku bersiap kembali menghadap, meski dengan perasaan yang terus terang sangat pesimistis. Aku tak berniat konsultasi, tetapi sekedar mencari kejelasan sikap pak Nas selanjutnya. Meski begitu aku tak mau menyebut pak Nas orang sulit seperti dikatakan banyak temanku. Dia hanya guru yang tak seperti lazimnya saja yang mempunyai cara sendiri dalam menyelesaikan persoalan.

Minggu, 22 Juli 2012

PENYEBAB SINDROM AKHIR MASA STUDI

PENYEBAB SINDROM AKHIR MASA STUDI


Banyak mahasiswa yang di akhir masa studi di perguruan tinggi merasa tidak bisa apa-apa, tidak merasa ahli bidang keilmuan dan keahlian yang ditekuni sejak lulus SLTA. Padahal mereka dihadapkan pada keharusan untuk mandiri, bertanggung jawab pada dirinya sendiri dengan cara bekerja, tetapi merasa jauh dari professional untuk memasuki bidang pekerjaan yang seharusnya mereka tekuni sesuai dengan bidang keilmuan/keahlian yang dipelajari di jurusan atau program studinya.
Banyak mahasiswa mampu menyelesaikan studi bahkan dengan nilai yang secara akademik tergolong baik, tetapi pada dasarnya belum ahli di bidangnya. Ini biasa dialami oleh mahasiswa dengan tipikal berikut.
1.   Kuliah Tanpa Visi 
Banyak calon mahasiswa tidak benar-benar tahu yang mereka cari dengan kuliah di perguruan tinggi. Mereka tidak tahu yang seharusnya mereka lakukan selama studi.   Pilihan terhadap fakultas, jurusan atau program studi bahkan sering didasarkan atas pertimbangan abstrak, umum, bahkan asal kuliah.
Mereka memilih bidang studi tertentu bukan atas pertimbangan masa depan seperti apa yang dia inginkan. Ini biasa dikarenakan hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi pada dasarnya banyak yang tidak benar-benar tahu bakat, minat serta masa depan yang benar-benar dia inginkan.
Ada sebagian mahasiswa yang kuliah hanya mengikuti trend. Misalnya dalam memilih jurusan, sebagian mahasiswa hanya mengikuti pilihan paling “laris” di suatu perguruan tinggi. Mereka tetap tidak menghayati apa yang mereka pelajari selama kegiatan kuliah berlangsung. Mereka seakan hanya terbawa arus itu hingga kuliah berakhir.
2.   Kehilangan Visi 
Ada pula mahasiswa yang awalnya memilih jurusan dengan serius. Mereka memilih jurusan karena memang jurusan itu yang dia inginkan, atau karena setelah lulus berharap dapat terjun ke bidang yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Dinamika selama kuliah sering kali membawa mahasiswa terjebak pada “sesuatu” yang lain. Ada di antara mereka larut dalam organisasi, kegiatan di luar kampus, atau pertemanan yang lebih menyita perhatiannya dibanding bidang ilmu dan keahlian yang seharusnya ditekuni.
Jam kuliah yang tidak sepadat waktu belajar sekolah membuat mahasiswa merasa terlalu banyak waktu untuk melakukan hal lain, sehingga kuliah hanya dijalani sebagai formalitas. Pendalaman materi dan profesi hanya dijalani sambil lalu, sehingga ketika di akhir masa studi merasa belum menjadi ahli sesuai bidang ilmu dan keahlian pada jurusan atau prodi yang ditekuni.
3.   Cara Belajar Anak Sekolah 
Berbeda dari anak sekolah, kebanyakan mahasiswa ternyata tidak punya jam belajar yang pasti. Saat sekolah mereka dihadapkan pada jam belajar yang padat yang biasanya disertai dengan berbagai pekerjaan rumah (PR) dari guru, sehingga mereka perlu menjadwalkan jam belajar, minimal untuk mengerjakan PR.
Masalahnya, budaya belajar itu rupanya cenderung terbawa saat mereka kuliah. Padahal saat mereka memasuki jenjang perguruan tinggi, mereka sebenarnya diperlakukan sebagai orang dewasa yang mampu mengelola waktunya sendiri.
Tugas-tugas mata kuliah pada fase-fase awal pada umumnya bersifat anjuran, seperti membaca buku atau mempelajari ini dan itu. Maksud penugasan yang bersifat anjuran adalah dalam rangka mempersiapkan penguasaan dan pendalaman konsep secara meluas. Mahasiswa dikondisikan untuk mengembangkan diri dan wawasan keilmuannya dengan cara lebih banyak membaca sendiri di perpustakaan atau membeli buku-buku yang relevan.
Forum kuliah hanya memberikan pembekalan dasar dan bersifat umum, sementara pendalaman ilmu lebih ditentukan oleh kemauan mahasiswa sendiri untuk menggalinya melalui berbagai fasilitas kampus, terutama perpustakaan. Faktanya, berdasarkan pengalaman, hanya beberapa mahasiswa saja yang mengikuti anjuran tersebut. Bahkan prosentase mahasiswa yang gemar ke perpustakaan masih sangat minim, dan mayoritas pengunjung perpustakaan ternyata lebih banyak mereka yang tengah mempersiapkan penulisan tugas akhir.
4.   Pencari Mudah
Ini merupakan trend umum pelajar. Konsep belajar yang berlaku pada masa kuliah pada dasarnya merupakan proses pendewasaan diri, pematangan diri, pemakaran diri seseorang melalui fasilitasi kampus. Kuliah merupakan pilihan seseorang untuk dimatangkan keilmuan dan keahliannya melalui proses kuliah.
Dengan sendirinya, setiap mahasiswa seharusnya menempatkan diri sebagai trainee yang siap melakoni proses apa saja yang memungkinkannya berkembang menjadi seorang pakar atau ahli di bidang tertentu. Masalahnya, kebanyakan pelajar tidak menempatkan diri pada posisi demikian, tetapi lebih cenderung menempatkan diri layaknya buruh yang dihadapkan pada beban tugas demi tugas.
Berbagai tugas kuliah jarang dipandang sebagai proses pendalaman, pelatihan dan pematangan penguasaan bidang ilmu dan keahlian, melainkan sebagai beban. Mungkin ini berkaitan pula dengan tradisi kampus yang masih menekankan nilai mata kuliah yang formalistik, juga tuntutan sosial yang lebih mengedepankan formalitas, sehingga kelulusan lebih dipentingkan dibanding kemampuan riil.
Sumber: Pengalaman Sendiri