Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2016

Flying Dutchmen

✈ Kapal Trimaran Bersayap Inovasi ITS untuk Keamanan Laut Indonesia Kebanggaan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia melahirkan kesadaran untuk memiliki kemampuan dalam mengendalikan keamanan lautnya. Maraknya Illegal Fishing, penyelundupan, pembajakan, terorisme serta berbagai aksi kejahatan melalui laut lainnya telah mendorong empat mahasiswa ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) menciptakan alutsista laut yang mumpuni untuk menangkal aksi-aksi di atas.

Untuk menghadapi tantangan operasi keamanan laut tersebut, diperlukan sebuah kapal perang dengan performa yang mumpuni dari aspek kecepatan, hidrodinamika, effisiensi power kapal, ketahanan kapal, sistem persenjataan hingga kemampuan tactical tempur kapal.

Adalah Anisa Prasetyo, Cakra Wijaya, Pratama Yuli dan Rahmat Diko, mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan ITS, menciptakan desain Kapal Trimaran Bersayap yang disebut Flying Dutchmen. Dibawah bimbingan Septia Hardy Sujiatanty, ST, MT, keempat mahasiswa ini mengkombinasikan desain kapal berlambung tiga (trimaran) dan konsep pesawat wing in surface effect, sehingga kapal dapat terbang rendah di atas permukaan air maupun darat.

Kami berharap desain ini mampu menjawab tantangan keamanan laut Indonesia, misalnya untuk misi memberantas illegal fishing dan misi pengawasan laut lainnya,” tutur Anisa Prasetyo, Ketua Tim Flying Dutchmen, kepada Jurnal Maritim.

Kapal Trimaran Bersayap ini memiliki kemampuan terbang pada ketinggian tertentu, dan melalui optimalisasi desain guna mencapai performa dan efisiensi yang tinggi. Pembuatan model kapal menggunakan software desain yang kemudian dilakukan simulasi pengujian menggunakan software hidrodinamika dan dibuktikan dengan pembuatan purwarupa berupa model scale Flying Dutchmen dengan mempertimbangkan aspek aerodinamika dan hidrodinamika.

Adapun beberapa keunggulan desain kapal ini adalah:

✈ hydrodinamics and aerodynamics design advance. Kapal ini didesain dengan menggunakan metode desain hidrodinamika dan aerodinamika tingkat lanjut guna mendapatkan desain yang optimal.
✈ power optimalization. Bertujuan untuk mereduksi hambatan hidrodinamik dan aerodinamik pada kapal. Dimana penurunan hambatan berbanding lurus dengan penurunan daya yang dibutuhkan kapal. Sehingga konsumsi bahan bakar dapat diminimalisir. Oleh karena itu kapal ini memiliki tingkat effisiensi daya mesin yang tinggi.
✈ high speed and good maneuverability. Beroperasi pada kecepatan tinggi dengan kemampuan olah gerak kapal yang baik. Oleh karena itu sangat cocok digunakan dalam misi partoli perbatasan, misi penyergapan, misi intelegensi dalam rangka mengamankan teritori laut Indonesia.
✈ Struktur dan material kapal menggunakan material komposit yang memiliki keunggulan kuat dan ringan.
✈ sistem persenjataan dan kemampuan taktikal tempur kapal, dilengkapi dengan sistem persenjataan modern sesuai kebutuhan operasional.
✈ teknologi kapal siluman (tidak terdeteksi radar). Kapal ini direncanakan dilengkapi dengan teknologi kapal siluman, sehingga kapal tidak dapat terdeteksi oleh musuh.

Riset Flying Dutchmen, menurut Anisa Prasetyo, sudah melalui tahap preliminary design, pembuatan tahap akhir prototype dan pengujian. Apras juga mengatakan bahwa pihaknya sudah merencanakan akan berdiskusi dengan pihak-pihak terkait seperti TNI AL dan Kementerian Perikanan dan Kelautan. [AR]

  Jurnal Maritim  

Produsen Seragam Militer Incar Pasar Ekspor

http://img.antaranews.com/new/2011/02/ori/20110207040305sritex040211.jpgIlustrasi produk Sritex [antara]

PT Sri Rezeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex tengah mengincar tiga negara baru di kawasan Eropa untuk memperbesar pangsa pasar ekspornya.

Sekretaris Perusahaan SRIL, Welly Salam mengatakan, perseroan sampai saat ini masih dalam tahap pendekatan kepada tiga negara kawasan Eropa.

"Ada beberapa negara Eropa untuk kami penetrasi lagi, tapi masih dalam tahap pendekatan. Ada tiga negara di Eropa yang dibidik," ujar Welly kepada Kompas.com, Minggu (7/8/2016).

Rencananya, produk yang akan di ekspor ke tiga negara yang belum bisa disebutkan namanya tersebut terdiri dari produk militer dan fashion.

"Ini untuk segmen militer dan juga ada fashion," tandas Welly.

Welly mengungkapkan, keputusan perseroan untuk memperbesar pasar ekspornya juga didorong oleh kondisi di kawasan tersebut, yang saat ini tengah menjadi incaran dari serangan terorisme.

"Karena kondisi itu, membuat mereka akan tambah jumlah yang lebih banyak," ucap Welly.

Welly menyebutkan, proses pendekatan terhadap ketiga negara tersebut ditargetkan perseroan akan selesai pada akhir tahun 2017 mendatang.

"Sekarang masih proses. Paling lambat akhir tahun depan sudah deal," ucapnya.

Saat ini, negara tujuan ekspor perseroan sudah mencapai 36 negara untuk seragam militer.

Sekadar informasi, ruang lingkup kegiatan SRIL meliputi usaha-usaha dalam bidang industri pemintalan, penenunan, pencelupan, pencetakan, penyempurnaan tekstil dan pakaian jadi.

Untuk bisnis seragam, SRIL dipercaya menjadi produsen seragam tentara Jerman dan sejumlah negara NATO lainnya.

  Kompas